tidur dan vitamin d

Masih banyak orang menganggap vitamin dan suplemen sebagai produk yang pasti aman karena dijual bebas. Akibatnya, tidak sedikit yang mengonsumsinya setiap hari tanpa mengetahui apakah tubuh benar-benar membutuhkannya.

Padahal, sama seperti obat, suplemen memiliki manfaat sekaligus risiko. Jika dikonsumsi dalam dosis yang tidak tepat atau tanpa alasan medis yang jelas, hasilnya belum tentu menguntungkan. Salah satu suplemen yang paling sering menjadi perbincangan adalah vitamin D.

Menurut Dr. Stasha Gominak, seorang ahli saraf yang banyak meneliti hubungan antara vitamin D dan kualitas tidur, kekurangan vitamin D merupakan masalah yang semakin sering terjadi pada masyarakat modern. Ia menilai perubahan gaya hidup menjadi salah satu penyebab utamanya. Kini banyak orang bekerja di dalam ruangan, jarang terkena sinar matahari, serta menggunakan tabir surya hampir setiap kali beraktivitas di luar.

Kondisi tersebut membuat produksi vitamin D alami oleh tubuh menjadi jauh berkurang dibandingkan beberapa generasi sebelumnya.


Vitamin D Sebenarnya Lebih Mirip Hormon daripada Vitamin

Meski disebut vitamin, vitamin D memiliki sifat yang cukup unik. Tubuh dapat memproduksinya sendiri ketika kulit terkena sinar ultraviolet B (UVB) dari matahari. Setelah terbentuk, vitamin D akan diproses di hati dan ginjal hingga berubah menjadi bentuk aktif yang dapat digunakan tubuh.

Perannya pun tidak hanya menjaga kesehatan tulang. Vitamin D membantu penyerapan kalsium, mendukung sistem kekebalan tubuh, serta memengaruhi banyak jaringan yang memiliki reseptor vitamin D, termasuk otak dan sistem saraf.

Karena itulah sebagian ilmuwan menyebut vitamin D lebih menyerupai hormon dibandingkan vitamin biasa.

Menurut Dr. Gominak, berkurangnya paparan sinar matahari mungkin berdampak pada berbagai fungsi tubuh, mulai dari metabolisme, kerja saraf, hingga kualitas tidur.


Mengapa Dr. Gominak Menghubungkan Vitamin D dengan Tidur?

Ketertarikan Dr. Gominak berawal dari praktik klinisnya sebagai ahli saraf. Ia menangani banyak pasien yang mengalami gangguan tidur kronis.

Menariknya, sebagian besar pasien tersebut sudah mencoba berbagai cara untuk memperbaiki tidur, seperti:

  • menjaga jadwal tidur tetap teratur,
  • membuat kamar menjadi gelap dan tenang,
  • mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur,
  • menghindari kafein pada malam hari.

Namun, kualitas tidur mereka tetap buruk.

Ketika kadar vitamin D pasien diperiksa, Dr. Gominak menemukan bahwa cukup banyak di antaranya memiliki kadar vitamin D yang rendah. Dari pengamatan inilah ia mulai mengembangkan hipotesis mengenai hubungan antara vitamin D dan mekanisme tidur.


Bagaimana Vitamin D Diduga Memengaruhi Tidur?

Menurut teori yang diajukan Dr. Gominak, vitamin D berperan dalam mendukung pembentukan enzim yang diperlukan untuk menghasilkan asetilkolin, yaitu neurotransmiter yang membantu komunikasi antarsel saraf.

Asetilkolin diketahui berperan penting selama tidur, terutama pada fase tidur dalam (deep sleep) dan fase REM, yaitu tahap tidur yang berhubungan dengan pemulihan otak, pembentukan memori, serta proses belajar.

Ia juga menjelaskan bahwa reseptor vitamin D ditemukan di beberapa bagian otak yang terlibat dalam pengaturan siklus tidur dan bangun.

Berdasarkan hipotesis tersebut, kadar vitamin D yang terlalu rendah diduga dapat mengganggu proses tersebut sehingga seseorang lebih sulit mendapatkan tidur yang benar-benar nyenyak.

Gejala yang menurut pengamatannya sering muncul antara lain:

  • sulit tidur nyenyak,
  • sering terbangun di malam hari,
  • bangun dalam keadaan lelah,
  • merasa tidur semalaman tetapi tubuh tetap tidak segar.

Perlu dipahami bahwa hubungan ini masih menjadi bidang penelitian. Sampai saat ini belum dapat dipastikan bahwa kekurangan vitamin D merupakan penyebab langsung semua gangguan tidur, meskipun sejumlah penelitian memang menunjukkan adanya hubungan antara keduanya.


Vitamin D Sebagai “Sinyal” untuk Jam Biologis Tubuh

Dr. Gominak juga mengemukakan pandangan menarik bahwa vitamin D mungkin berfungsi sebagai salah satu sinyal biologis yang membantu tubuh mengenali perubahan musim dan mengatur ritme sirkadian atau jam biologis.

Dalam pandangannya, kadar vitamin D yang cukup membantu tubuh mengenali kapan waktunya aktif dan kapan waktunya beristirahat.

Jika kadar vitamin D terlalu rendah dalam waktu lama, mekanisme alami tersebut diduga menjadi kurang optimal sehingga pola tidur menjadi tidak stabil.

Hipotesis ini masih terus diteliti dan belum menjadi kesimpulan ilmiah yang diterima secara universal.


Hubungan Vitamin D dengan Kesehatan Usus

Selama menangani pasien, Dr. Gominak mengamati fenomena yang cukup unik.

Sebagian pasien mengalami perbaikan tidur setelah mengonsumsi vitamin D. Namun beberapa bulan kemudian muncul keluhan baru, seperti:

  • tangan atau kaki terasa terbakar,
  • nyeri sendi,
  • gangguan pencernaan,
  • mudah lelah.

Menurut teorinya, kondisi tersebut mungkin berkaitan dengan perubahan mikrobiota usus atau bakteri baik di dalam saluran pencernaan.

Ia berpendapat bahwa vitamin D membantu menciptakan lingkungan usus yang lebih sehat sehingga populasi bakteri baik mulai pulih. Bakteri-bakteri tersebut diketahui ikut berperan dalam pembentukan beberapa vitamin kelompok B.


Mengapa Vitamin B Ikut Dibahas?

Dr. Gominak mengajukan hipotesis bahwa ketika seseorang telah lama kekurangan vitamin D, keseimbangan mikrobiota usus ikut terganggu sehingga produksi vitamin B oleh bakteri usus juga menurun.

Ketika kadar vitamin D mulai diperbaiki, tubuh memasuki fase pemulihan yang diduga meningkatkan kebutuhan terhadap vitamin B.

Dalam masa transisi tersebut, sebagian pasien mungkin mengalami kekurangan vitamin B sementara, yang menurut pengamatannya dapat menimbulkan berbagai keluhan.

Karena itu, berdasarkan pengalaman klinisnya, ia terkadang memberikan vitamin B kompleks dalam jangka pendek hingga fungsi usus diperkirakan kembali membaik.

Perlu diketahui bahwa teori mengenai hubungan vitamin D, mikrobiota usus, dan kebutuhan vitamin B ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut sehingga belum menjadi rekomendasi standar dalam praktik medis.


Mengapa Dosis Suplemen Tidak Bisa Disamaratakan?

Salah satu pesan utama yang selalu disampaikan Dr. Gominak adalah bahwa suplemen bukanlah produk yang bisa dikonsumsi tanpa perhitungan.

Baik kekurangan maupun kelebihan vitamin sama-sama dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Kebutuhan vitamin D setiap orang berbeda-beda. Beberapa faktor yang memengaruhinya antara lain:

  • usia,
  • kondisi kesehatan,
  • warna kulit,
  • pola makan,
  • paparan sinar matahari,
  • hingga hasil pemeriksaan laboratorium.

Karena itu, tidak ada satu dosis vitamin D yang cocok untuk semua orang.

Hal yang sama berlaku untuk vitamin B kompleks. Mengonsumsi vitamin dalam jumlah berlebihan juga dapat menimbulkan efek samping sehingga penggunaannya sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.


Pendekatan Bertahap untuk Memperbaiki Tidur

Menurut Dr. Gominak, memperbaiki kualitas tidur sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak langsung bergantung pada suplemen.

Langkah pertama tetap dimulai dengan memperbaiki kebiasaan tidur, seperti tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, menciptakan kamar yang nyaman dan minim cahaya, mengurangi penggunaan ponsel atau komputer menjelang tidur, serta membatasi konsumsi kafein pada sore atau malam hari.

Jika gangguan tidur masih berlanjut, paparan sinar matahari pada waktu yang tepat dapat membantu tubuh memproduksi vitamin D secara alami sekaligus mendukung ritme sirkadian.

Sebelum memutuskan mengonsumsi suplemen vitamin D, pemeriksaan kadar vitamin D melalui tes darah merupakan langkah yang lebih bijaksana. Dengan begitu, dosis dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing dan dipantau secara berkala.

Pada pasien yang diduga mengalami kekurangan vitamin B selama proses terapi vitamin D, Dr. Gominak mempertimbangkan pemberian vitamin B kompleks untuk sementara waktu, disertai upaya memperbaiki kesehatan usus melalui pola makan bergizi dan, bila sesuai, konsumsi makanan fermentasi.

Selama proses tersebut, ia juga menyarankan pasien untuk memperhatikan perubahan yang terjadi pada tubuh, seperti kualitas tidur, tingkat energi, maupun munculnya keluhan baru. Respons setiap orang bisa berbeda, sehingga evaluasi berkala menjadi bagian penting dalam menentukan apakah terapi yang dijalani sudah sesuai atau perlu disesuaikan kembali.

Designed with WordPress