Diet keto atau ketogenic diet merupakan pola makan yang mengurangi asupan karbohidrat secara drastis, memberikan protein dalam jumlah cukup, dan meningkatkan konsumsi lemak sehat. Tujuan utamanya adalah mengubah sumber energi tubuh dari glukosa menjadi lemak melalui proses yang disebut ketosis.
Pola makan ini awalnya dikembangkan sebagai terapi untuk epilepsi yang sulit diobati, namun dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak diteliti karena potensinya dalam membantu penurunan berat badan, memperbaiki kesehatan metabolik, serta memengaruhi berbagai proses biologis di dalam tubuh.
Apa Itu Ketosis?
Dalam kondisi normal, tubuh menggunakan glukosa yang berasal dari karbohidrat sebagai sumber energi utama. Ketika asupan karbohidrat dibatasi hingga sangat rendah, cadangan glikogen di hati dan otot mulai berkurang.
Setelah cadangan glikogen menurun, hati mulai mengubah asam lemak menjadi badan keton, yaitu beta-hydroxybutyrate (BHB), acetoacetate, dan acetone. Ketiga senyawa ini kemudian digunakan sebagai bahan bakar oleh berbagai organ, termasuk otak, jantung, dan otot.
Keadaan ketika tubuh lebih banyak menggunakan badan keton sebagai sumber energi disebut ketosis nutrisi.
Peran Insulin dalam Diet Keto
Insulin merupakan hormon yang membantu memasukkan glukosa ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi atau disimpan sebagai glikogen dan lemak.
Saat seseorang mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat, kadar insulin biasanya meningkat. Sebaliknya, ketika asupan karbohidrat sangat rendah seperti pada diet keto, kebutuhan tubuh akan insulin juga cenderung menurun.
Penurunan kadar insulin ini mengurangi penyimpanan lemak dan mempermudah tubuh memanfaatkan cadangan lemak sebagai sumber energi. Inilah salah satu mekanisme yang menjelaskan mengapa banyak orang mengalami penurunan berat badan saat menjalani diet keto.
Tubuh Beralih Menjadi Pembakar Lemak
Dalam kondisi ketosis, tubuh tidak lagi bergantung sepenuhnya pada glukosa. Lemak yang tersimpan di jaringan adiposa dipecah menjadi asam lemak, kemudian diolah oleh hati menjadi badan keton.
Perubahan ini sering disebut sebagai fat burning atau pembakaran lemak. Selama kebutuhan energi tetap ada, tubuh dapat terus memanfaatkan cadangan lemak sebagai bahan bakar.
Pada sebagian orang, adaptasi menuju ketosis membutuhkan beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung pola makan sebelumnya, aktivitas fisik, serta kondisi metabolisme masing-masing.
Mengenal Autofagi
Autofagi merupakan proses alami di dalam sel yang berfungsi mendaur ulang komponen-komponen yang rusak, tidak lagi berfungsi, atau sudah tua.
Melalui proses ini, sel memecah berbagai komponen tersebut menjadi bahan baku yang dapat digunakan kembali untuk membangun struktur sel yang baru atau menghasilkan energi ketika diperlukan.
Mekanisme autofagi ditemukan di hampir semua sel tubuh dan berperan dalam menjaga keseimbangan serta kualitas sel.
Penelitian mengenai mekanisme autofagi berkembang pesat setelah penemuan-penemuan penting di bidang biologi sel, termasuk penelitian yang mengantarkan Yoshinori Ohsumi meraih Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 2016 atas penjelasan mengenai mekanisme dasar autofagi.
Hubungan Ketosis, Insulin, dan Autofagi
Para peneliti telah menemukan bahwa autofagi dipengaruhi oleh berbagai sinyal metabolik di dalam tubuh.
Beberapa faktor yang diketahui berperan antara lain:
- Ketersediaan nutrisi.
- Kadar insulin.
- Aktivitas jalur mTOR.
- Aktivitas AMPK.
- Kondisi puasa.
- Aktivitas fisik.
Saat asupan karbohidrat berkurang, kadar insulin cenderung lebih rendah dibandingkan pola makan tinggi karbohidrat. Kondisi ini dapat mengurangi aktivitas jalur mTOR yang dikenal sebagai salah satu penghambat autofagi, sekaligus meningkatkan aktivitas AMPK yang berhubungan dengan penggunaan energi di dalam sel.
Karena alasan tersebut, banyak peneliti mempelajari kemungkinan bahwa ketosis dan pembatasan karbohidrat dapat menciptakan lingkungan metabolik yang mendukung proses autofagi.
Meski demikian, autofagi merupakan proses biologis yang kompleks sehingga tingkat aktivitasnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, bukan hanya ketosis atau kadar insulin semata.
Diet Keto dan Penurunan Berat Badan
Banyak penelitian menunjukkan bahwa diet keto dapat membantu menurunkan berat badan, terutama pada individu yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
Beberapa mekanisme yang diduga berkontribusi antara lain:
- Nafsu makan yang cenderung berkurang.
- Penggunaan lemak sebagai sumber energi utama.
- Penurunan kadar insulin.
- Berkurangnya simpanan glikogen beserta air yang menyertainya pada fase awal diet.
- Asupan protein yang membantu mempertahankan massa otot.
Kecepatan penurunan berat badan berbeda pada setiap individu dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, berat badan awal, aktivitas fisik, kepatuhan terhadap pola makan, serta kondisi kesehatan.
Manfaat Diet Keto yang Telah Banyak Diteliti
Selain penurunan berat badan, berbagai penelitian telah mengevaluasi manfaat diet keto pada beberapa kondisi kesehatan.
Beberapa di antaranya meliputi:
- Membantu terapi epilepsi yang sulit dikendalikan dengan obat.
- Membantu memperbaiki kontrol gula darah pada sebagian penderita diabetes tipe 2 di bawah pengawasan tenaga kesehatan.
- Menurunkan kadar trigliserida pada sebagian individu.
- Meningkatkan kadar kolesterol HDL pada sebagian orang.
- Membantu mengurangi lemak di hati pada sebagian penderita penyakit hati berlemak nonalkohol.
Di sisi lain, penelitian mengenai pengaruh diet keto terhadap kesehatan jangka panjang, penyakit neurodegeneratif, kanker, penuaan, serta hubungannya dengan autofagi masih terus berkembang sehingga menjadi bidang yang aktif diteliti hingga saat ini.

Leave a Reply